STRESS
A. Arti Penting
Stress
Stress
adalah suatu kondisi anda yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada
peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan
oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Stress
adalah beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri,
sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat. Stres tidak selalu buruk,
walaupun biasanya dibahas dalam konteks negatif, karena stres memiliki nilai
positif ketika menjadi peluang saat menawarkan potensi hasil. Sebagai contoh,
banyak profesional memandang tekanan berupa beban kerja yang berat dan tenggat
waktu yang mepet sebagai tantangan positif yang menaikkan mutu pekerjaan mereka
dan kepuasan yang mereka dapatkan dari pekerjaan mereka.
Stress
bisa positif dan bisa negatif. Para peneliti berpendapat bahwa stres tantangan,
atau stres yang menyertai tantangan di lingkungan kerja, beroperasi sangat
berbeda dari stres hambatan, atau stres yang menghalangi dalam mencapai
tujuan.Meskipun riset mengenai stres tantangan dan stres hambatan baru tahap
permulaan, bukti awal menunjukan bahwa stres tantangan memiliki banyak
implikasi yang lebih sedikit negatifnya dibanding stres hambatan.
GAS
(General Adaptation Syndrom) merupakan respon fisiologis dari seluruh tubuh
terhadap stress. Respon yang terlibat didalam nya adalah sistem saraf otonom
dan sistem endokrin.
Terdapat 3 fase, yaitu :
- Fase Alarm (waspada)
- Fase Resistance (melawan)
- Fase Exhaustion (kelelahan)
B. Tipe-Tipe
Stress Psikologi
Tipe-tipe
stress terbagi menjadi empat, yaitu :
1. Tekanan
Biasanya
tekanan muncul tidak hanya dalam diri sendiri, mealinkan di luar diri juga.
Karena biasanya apa yang menjadi pandangan kita terkadang bertentangan dengan
pandangan orang tua, itu yang terkadang menjadi salah satu tekanan psikologis
bagi seorang anak yang akan menimbulkan stress pada anak tersebut.
2. Frustasi
Suatu kondisi
psikologis yang tidak menyenangkan sebagai akibat terhambatnya seseorang dalam
mencapai apa yang diinginkannya.
3. Konflik
Perbedaan
pendapat, perbedaan cara pandang bahkan perbedaan pandangan dalam mencapai
suatu tujuan itu akan menimbulkan koflik. Biasanya tidak hanya konflik dengan
diri sendiri, banyak juga konflik ini terjadi antar beberapa orang, kelompok,
bahkna organisasi.
4. Kecemasan
Khawatir,
gelisah, takut dan perasaan semacamnya itu merupakn suatu tanda atau sinyal seseorang
mengalami kecemasan. Biasanya kecemasan di timbulkan karena adanya rasa kurang
nyaman, rasa tidak aman atau merasa terancam pada dirinya.
C. Symptom-Reducing
Responses terhadap stress
Kehidupan
akan terus berjalan seiring dengan berjalannya waktu. Individu yang mengalami
stress tidak akan terus menerus merenungi kegagalan yang ia rasakan. Untuk itu
setiap individu memiliki mekanisme pertahanan diri masing-masing dengan
keunikannya masing-masing untuk mengurangi gejala-gejala stress yang ada.
Berikut mekanisme pertahana diri (defense mechanism) yang biasa digunakan
individu untuk dijadiakan strategi saat menghadapi stress:
1. Indentifikasi
Identifikasi
adalah suatu cara yang digunakan individu untuk menghadapi orang lain dngan
membuatnya menjadi kepribadiannya, ia ingin serupa dan bersifat sama seperti
orang lain tersebut. Misalnya seorang mahasiswa yang menganggap dosen
pembimbingnya memiiliki kepribadian yang menyenangkan, cara bicara yang ramah,
dan sebagainya. Maka mahasiswa tersebut akan meniru dan berperilaku seperti
dosennya.
2. Kompensasi
Seorang
individu tidak memperoleh kepuasan di bidang tertentu, tetapi mendapatkan
kepuasan di bidang lain. Misalnya Andi memiliki nilai yang buruk dalam bidang
Matematika, namun prestasi olah raga yang ia miliki sangatlah memuaskan.
3. Overcompensation/ reaction
formation
Perilaku
seseorang yang gagal mencapai tujuan dan orang tersebut tidak mengakui tujuan
pertama tersebut dengan cara melupakan serta melebih-lebihkan tujuan kedua yang
biasanya berlawanan dengan tujuan pertama. Misalnya seorang anak yang ditegur
gurunya karena mengobrol saat upacara, bereaksi dengan menjadi sangat tertib
saat melaksanakan upacara dan menghiraukan ajakan teman untuk mengobrol.
4. Sublimasi
Sublimasi
adalah suatu mekanisme sejenis yang memegang peranan positif dalam
menyelesaikan suatu konflik dengan pengembangan kegiatan yang konstruktif.
Penggantian objek dalam bentuk-bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat dan
derajatnya lebih tinggi. Misalnya sifat agresifitas yang disalurkan menjadi
petinju atau tukang potong hewan.
5. Proyeksi
Proyeksi
adalah mekanisme perilaku dengan menempatkan sifat-sifat batin sendiri pada
objek di luar diri atau melemparkan kekurangan diri sendiri pada orang lain.
Mutu proyeksi lebih rendah daripada rasionalisasi. Contohnya seorang anak tidak
menyukai temannya, namun ia berkata temannyalah yang tidak menyukainya.
6. Introyeksi
Introyeksi
adalah memasukan dalam pribadi dirinya sifat-sifat pribadi orang lain. Misalnya
seoarang wanita mencintai seorang pria, lalu ia memasukan pribadi pria tersebut
ke dalam pribadinya.
7. Reaksi konversi
Secara
singkat mengalihkan konflik ke alat tubuh atau mengembangkan gejala fisik.
Misalkan belum belajar saat menjelang bel masuk ujian, seorang anak wajahnya
menjadi pucat dan berkeringat.
8. Represi
Represi
adalah konflik pikiran, impuls-impuls yang tidak dapat diterima dengan paksaan
ditekan ke dalam alam tidak sadar dan dengan sengaja melupakan. Misalnya
seorang karyawan yang dengan sengaja melupakan kejadian saat ia dimarahi oleh
bosnya tadi siang.
9. Supresi
Supresi
yaitu menekan konflik, impuls yang tidak dapat diterima secara sadar. Individu
tidak mau memikirkan hal-hal yang kurang menyenangkan dirinya. Misalnya dengan
berkata “Sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu lagi.”
10. Denial
Denial
adalah mekanisme perilaku penolakan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan.
Misalnya seorang penderita diabetes memakan semua makanan yang menjadi
pantangannya.
11. Regresi
Regresi
adalah mekanisme perilaku seseorang yang apabila menghadapi konflik frustasi,
ia menarik diri dari pergaulan dengan lingkunganya. Misalnya artis yang sedang
digosipkan berselingkuh, karena malu maka ia menarik diri dari perkumpulannya.
12. Fantasi
Fantasi
adalah apabila seseorang menghadapi konflik-frustasi, ia menarik diri dengan
berkhayal/berfntasi, misalnya dengan lamunan. Contoh seorang pria yang tidak
memiliki keberanian untuk menyatakan rasa cintanya melamunkan berbagai fantasi
dirinya dengan orang yang ia cintai.
13. Negativisme
Adalah
perilaku seseorang yang selalu bertentangan/menentang otoritas orang lain
dengan perilaku tidak terpuji. Misalkan seorang anak yang menolak perintah
gurunya dengan bolos sekolah.
14. Sikap mengkritik orang lain
Bentuk
pertahanan diri untuk menyerang orang lain dengan kritikan-kritikan. Perilaku
ini termasuk perilaku agresif yang aktif (terbuka). Misalkan seorang karyawan
yang berusaha menjatuhkan karyawan lain dengan adu argument saat rapat
berlangsung.
Selain
mekanisme pertahanan diri yang digunakan untuk mengatasi serta mengurangi
stress yang timbul karena adanya stressor, individu dapat juga menggunakan
berbagai strategi coping yang spontan untuk mengatasi stress “minor”. Coping
strategy merupakan koping yang digunakan individu secara sadar dan terarah
dalam mengatasi sakit atau stressor yang dihadapinya. Metode koping bisa
diperoleh dari proses belajar dan beberapa relaksasi. Jika individu menggunaan
strategi koping yang efektif dan cocok dengan stressor yang dihadapinya,
stressor tersebut tidak akan menimbulkan sakit (disease), tetapi stressor
tersebut akan menjadi suatu stimulan yang memberikan wellness dan prestasi.
Untuk
mengatasi stres “minor”, individu dapat melakukan berbagai macam koping spontan
dan sederhana. Tidak perlu memerlukan banyak biaya dan waktu yang dikorbankan.
Stres “minor” merupakan stres yang tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap
individu yang merasakannya. Misalnya seperti kecelakaan, mendapat nilai yang
buruk di rapot, telat datang ke kantor, dan lain sebagainya.
Biasanya
jika tingkat stres yang dirasakan individu cukup parah, peranan obat/medikasi
sangat membantu. Namun terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan di saat stres
juga tidak baik pengaruhnya bagi kesehatan fisik. Ada beberapa teknik terapi
yang dicobakan untuk mengatasi stres. Biofeedbacknadalah suatu teknik untuk
mengetahui bagian tubuh mana yang terkena stres dan kemudian belajar untuk
menguasainya. Teknik ini menggunakan serangkaian alat yang cukup rumit, gunanya
sebagai feedback atau umpan balik terhadap bagian tubuh tertentu. Biofeedback
kurang efektif untuk digunakan secara praktis.
Untuk mengatasi stres minor,
individu dapat mengatur istirahat yang cukup dan olah raga yang teratur. Karena
cara hidup yang teratur dapat membuat orang jarang mengalami stres. Relaksasi
dan meditasi juga salah satu cara untuk mengurang stres “minor”. Dengan merasa
rileks, seseorang dapat lebih tajam untuk mengetahui bagaian tubuh mana yang
mengalami stres lalu mengembalikan kondisi tubuh ke kondisi semula. Selain iu
meditasi juga memiliki keuntungan lain seperti konsentrasi menjadi lebih tajam
dan pikira menjadi lebih tenang.
Namun dari semua strategi yang
ada, menguah sikap hidup merupakan strategi yang paling ampuh untuk mengurangi
stres yang dirasakan. Dengan mengubah pikiran negatif menjadi positif orang
bisa merasa lebih baik dalam menghadapi stressornya. Orang juga merasa ikhlas
dalam menjalani setiap masalah yang akan terus ada dalam hidupnya.
D. Pendekatan Problem
Solving Terhadap Stress
Proses mental dan intelektual dalam
menemukan masalah dan memecahkan masalah berdasarkan data dan informasi yang
akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang cermat dan akurat. Atau ketika
kita mendapatkan masalah dan membuat kita stress, lebih baik kita berdoa dan
memohon petunjuk dari yang Maha Kuasa.
·
Strategi
coping yang spontan mengatasi stress, yaitu :
Menurut Lazanus, penanganan
stress atau coping terdiri dari dua bentuk, yaitu :
-Problem-Pocused Coping (coping
yang berfokus pada masalah)
Penanganan
stress atau coping yang digunakan oleh individu yang mengahadapi masalahnya dan
berusaha menyelesaikannya.
-Emotional-Pocused Coping
(coping yang berfokus pada emosi)
Penanganan
stress dimana individu memberikan respon terhadap situasi stress dengan cara
emosional, terutama dengan penilaian defensive.
DAFTAR PUSTAKA
http://jankerdwells.wordpress.com/2011/02/20/49/
http://id.wikipedia.org/wiki/Stres
http://naypsikosa.wordpress.com/2012/04/21/apa-yang-anda-ketahui-tentang-stress/
Sunaryo. 2002. Psikologi untuk
keperawatan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Siswanto. 2007. Kesehatan mental;
konsep, cakupan, dan perkembangannya. Yogyakarta: C.V Andi Offset
Halgin, R.P., Whitbourne, S.K.
2010. Psikologi abnormal. Jakarta: Salemba Humanika
Munandar, A.S. 2001. Psikologi
industry dan organisasi. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press)
Nursalam, Kurniawati, N.D.
2007. Asuhan keperawatan pada pasien terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta: Salemba
Medika
Anonim. 1999. Manajemen stres.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC
http://wulanwulan61.blogspot.com/2013/04/tulisan-2.html
http://khaayurika.blogspot.com/2012_04_01_archive.html
HUBUNGAN
INTERPERSONAL
A. MODEL-MODEL HUBUNGAN INTERPERSONAL
Ada 4 model hubungan
interpersonal yaitu meliputi :
1. Model pertukaran sosial (social
exchange model)
Hubungan
interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi
karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan
tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat
negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).
2. Model peranan (role model)
Hubungan
interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang
memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan
dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation),
tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan
terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas
dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah
desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan
peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
3. Model permainan (games people
play model)
Model
menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa
dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan.
Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
• Kepribadian orang tua (aspek
kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua
atau yang dianggap sebagi orang tua).
• Kepribadian orang dewasa
(bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional)
• Kepribadian anak (kepribadian
yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi
intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan). Pada interaksi individu
menggunakan salah satu kepribadian tersebut sedang yang lain membalasnya dengan
menampilkan salah satu dari kepribadian tersebut. Sebagai contoh seorang suami
yang sakit dan ingin minta perhatian pada istri (kepribadian anak), kemudian
istri menyadari rasa sakit suami dan merawatnya (kepribadian orang tua).
4. Model Interaksional
(interacsional model)
Model
ini memandang hubungann interpersonal sebagai suatu sistem . Setiap sistem
memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini
menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.
B. Pembentukan
Kesan Dan Ketertarikan Interpersonal
Pembentukan Kesan dan
Ketertarikan Interpersonal dalam Memulai Hubungan
1. Pembentukan Kesan
Menurut sears dkk (1992)
individu cenderung membentuk kesan panjang lebar atas orang lain berdasarkan
informasi yang terbatas.
- Evaluasi : Kesan pertama.
Menurut sears dkk (1992) aspek pertama yang paling penting dan kuat adalah
evaluasi. Secara formal dimensi evaluatif merupakan dimensi terpenting diantara
sejumlah dimensi dasar yang mengorganisasikan kesan gabungan tentang orang
lain.
- Kesan Menyeluruh. Untuk
menjelaskan bagaimana orang mengevaluasi terhadap orang orang lain, dapat
dilakukan dari “kesan yang diterima secara keseluruhan”. Sears dkk. (1992)
membagi kesan menyeluruh menjadi dua, yaitu model penyamarataan dan model
menambahkan.
- Konsistensi. Individu
cenderung membentuk karakteristik yang konsisten secara evaluatif terhadap
individu lainnya, meski hanya memiliki sedikit informasi. Kita cenderung
memandang orang lain secara konsisten dari kedalamannya.
-Prasangka positif menurut
sears (dalam Sears dkk., 1992) adalah kecenderungan menilai orang lain secara
positif sehingga mengalahkan evaluasi negatif.
2. Ketertarikan Interpersonal
- Prinsip Dasar Daya Tarik Interpersonal
·Penguatan
Kita
menyukai orang lain dengan cara member ganjaran sebagai penguatan dari tindakan
atau sikap kita. Salah satu tipe ganjaran yang penting adalah persetujuan
sosial, dan banyak penelitian memperlihatkan bahwa kita cenderung menyukai
orang lain yang cenderung menilai kita secara positif (Sears, 1992).
·Pertukaran sosial
Pandangan
ini menyatakan bahwa rasa suka kita kepada orang lain didasarkan pada penilaian
kita terhadap kerugian dan keuntungan yang diberikan seseorang kepada kita.
Teori ini menekankan bahwa kita membuat penilaian komparatif, menilai
keuntungan yang kita peroleh dari seseorang dibandingkan dengan keuntungan yang
kita peroleh dari orang lain (Sears dkk., 1992).
· Asosiasi
Kita
menjadi suka kepada orang yang diasosiasikan (dihubungkan) dengan pengalaman
yang baik/bagus dan tidak suka kepada orang yang diasosiasikan dengan
pengalaman buruk/jelek (Clore & Byrne dalam Sears dkk., 1992)
- Faktor-faktor yang
mempengaruhinya
· Karakter Pribadi
Daya
tarik seseorang bagi orang lain, pada dasarnya dapat kita bagi menjadi dua hal
: yang bersifat fisik (wajah, rambut, tubuh) dan yang bersifat non fisik
(kepribadian, intelegensi, minat dan hobby), para ahli mengidentifikasikan
beberapa karakter umum yang mempengaruhi rasa suka seseorang kepada orang lain
yaitu ketulusan, kehangatan personal,
kompetensi, dan daya tarik fisik.
· Kesamaan
Kita
cenderung menyukai orang yang sama dengan kita dalam sikap, nilai, minat, hoby,
latar belakang, dan kepribadian. Menurut Sears dkk., (1992) dalam hal
berpacaran dan pernikahan, kecenderungan untuk memilih pasangan yang mempunyai
kesamaan disebut sebagai “prinsip kesesuaian” (match principle).
· Keakraban
Menurut
Atkinson dkk. (1993) salah satu alasan bahwa kedekatan dapat menimbulkan rasa
senang pada seseorang adalah bahwa kedekatan dapat mningkatkan keakraban.
Fenomena ini oleh Sears dkk. (1992) dapat dijelaskan dengan apa yang disebut
sebagai efek eksposur belaka. Efek ini merupakan suatu fenomena dimana
keseringan berhadapan dengan seseorang dapat meningkatkan rasa suka kita
terhadap orang lain.
· Kedekatan
Menurut
Atkinson dkk. (1993) salah satu prediktor terbaik mengenai apakah dua orang
dapat berteman atau tidak adalah seberapa jauh jarak tempat tinggal mereka.
Terdapat tiga faktor yang menghubungkan antara kedekatan daya tarik
interpersonal, yaitu pertama, kedekatan biasanya meningkatkan keakraban. Kedua,
kedekatan sering berkaitan dengan kesamaan. Kita seringkali memilih untuk
tinggal dan bekerja dengan orang lain yang kita kenal, dan selanjutnya
kedekatan geografi kita akan meningkatkan kesamaan kita. Faktor ketiga adalah
bahwa orang yang dekat secara fisik lebih mudah didapat dari pada orang yang
jauh (Sears dkk. 1992).
C. Intimasi dan
hubungan pribadi
Pendapat beberapa ahli mengenai
intimasi, di antara lain yaitu :
a. Shadily dan Echols (1990)
mengartikan intimasi sebagai kelekatan yang kuat yang didasarkan oleh saling
percaya dan kekeluargaan.
b. Sullivan (Prager, 1995)
mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk
mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain.
c. Steinberg (1993) berpendapat
bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu
yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan
pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling
berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
d. Levinger & Snoek (Brernstein
dkk, 1988) merupakan suatu bentuk hubungan yang berkembang dari suatu hubungan
yang bersifat timbal balik antara dua individu. Keduanya saling berbagi
pengalaman dan informasi, bukan saja pada hal-hal yang berkaitan dengan
fakta-fakta umum yang terjadi di sekeliling mereka, tetapi lebih bersifat
pribadi seperti berbagi pengalaman hidup, keyakinan-keyakinan, pilihan-pilihan,
tujuan dan filosofi dalam hidup. Pada tahap ini akan terbentuk perasaan atau
keinginan untuk menyayangi, memperdulikan, dan merasa bertangung jawab terhadap
hal-hal tertentu yang terjadi pada orang yang dekat dengannya.
e. Atwater (1983) mengemukakan
bahwa intimasi mengarah pada suatu hubungan yang bersifat informal, hubungan kehangatan
antara dua orang yang diakibatkan oleh persatuan yang lama. Intimasi mengarah
pada keterbukaan pribadi dengan orang lain, saling berbagi pikiran dan perasaan
mereka yang terdalam. Intimasi semacam ini membutuhkan komunikasi yang penuh
makna untuk mengetahui dengan pasti apa yang dibagi bersama dan memperkuat
ikatan yang telah terjalin. Hal tersebut dapat terwujud melalui saling berbagi
dan membuka diri, saling menerima dan menghormati, serta kemampuan untuk merespon
kebutuhan orang lain (Harvey dan Omarzu dalam Papalia dkk, 2001).
Dalam
suatu hubungan juga perlu adanya companionate love, passionate love dan
intimacy love. Karena apabila kurang salah satu saja di dalam suatu hubungan
atau mungkin hanya salah satu di antara ketiganya itu di dalam suatu hubungan
maka yang akan terjadi adalah hubungan tersebut tidak akan berjalan dengan
langgeng atau awet, justru sebaliknya setiap pasangan tidak merasakan
kenyamanan dari pasangannya tersebut sehingga yang terjadi adalah hubungan
tersebut bubar dan tidak akan ada lagi harapan untuk membangun hubungan yang
harmonis dan langgeng.
Komunikasi
yang selalu terjaga, kepercayaan, kejujuran dan saling terbuka pun menjadi
modal yang cukup untuk membina hubungan yang harmonis. Maka jangan kaget
apabila komunikasi kita dengan pasangan tidak berjalan dengan mulus atau selalu
terjaga bisa jadi hubungan kita akan terancam bubar atau hancur. Tentu saja itu
akan menyakitkan hati kita dan setiap pasangan di dunia ini pun tidak pernah
menginginkan hal berikut.
DAFTAR
PUSTAKA:
http://www.psychologymania.com/2013/04/teori-hubungan-interpersonal.html
http://pemulihanjiwa.com/teori-teori-hubungan-interpersonal-2.html
Wirawan, Sarlito S. 2002.
Individu dan teori-teori psikologi social. Jakarta: Balai Pustaka
Dayakisni, Tri. 2006. Psikologi
social. Edisi revisi. Malang : Universitas Muhamadiyah Malang
Aronson ,Elliot .(2005).social
psychology .upper saddle river :person prentice hall
Hall, S Calvin., Lindzey ,
Gardner., (2009). teori - teori psikodinamika, yogyakarta:kanisius
Jalaluddin Rakhmat (1998):
Psikologi Komunikasi, Edisi 12, PT Remaja Rosdakarya Offset, Bandung.
http://21juli1991.blogspot.com/2013/05/hubungan-interpersonal.html
http://segita-19.blogspot.com/2013/04/hubungan-interpersonal.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar